Sekarang saya berada di kediaman duka...
6.58 PM
Sab, 19 Nov 2016
Tadi saya berencana untuk membuat blog di blogspot memakai email yang biasa, waktu saya membuatnya koq masih ada blog saya yang dulu, karena awalnya saya memang pernah membuat blog dengan email tersebut namun saya meyakini bahwa telah menghapus blog tersebut.
Dari pada capek buat email lain dan blog lain saya akhirnya memutuskan untuk memakai blog yang sudah jadi ini dan mengubah nama dan urlnya.
Saat melihat url blog saya senyum-senyum sendiri, saya berpikir namanya koq begini. Iya.. Memang dulu saat pertama kali membuat blog memang belum punya ilmu dasar untuk blog dan bagaimana memilih nama blog?
Ohh.. Ya.. Saya sebenarnya punya blog di wordpress yang masih aktif. Lalu blog ini untuk apa? Blog ini tujuannya hanya sebagai diary saya saja, tempat melepas uneg-uneg saya. Saya merasa tidak bebas menulis apa saja di wordpress karena blog tersebut sudah banyak pengikut.
Jadi target saya di blog ini bukan menjaring follower dan statistik blog, tujuan utama saya hanya menulis kejadian-kejadian yang saya alami saja. Jadi saya tidak pusing mikirin tentang statistik blog, gaya penulisannya karena tulisan ini sebagai dokumentasi untuk saya sendiri.
Jadi tulisan-tulisan di blog ini kadangkalanya panjang dan kadangkalanya pendek, sesuai dengan mood saya.
Kalau ada yang follow silakan, saya tidak melarangnya koq.
4.54 PM
Sab, 19 Nov 2016
Orang ketika dituduh terlalu mengejar dunia pasti ia kan mengelak dan tidak mengakuinya, karena segenap kaum muslimin mengetahui bahwa terlalu tamak kepada dunia itu hal yang tercela.
Lantas bagaimana kita mengetahui orang tersebut terlalu tamak dunia? Kita lihat pada sikapnya.
Sikap yang bagaimana? Sikap yang mengentengkan akhirat mengutamakan dunia, misalnya begini seperti di desa saya, petani-petani yang pergi kesawah terutama di waktu sore. Mereka pergi ke sawah kebiasaannya seusai shalat zuhur, waktu pulangnya terkadang waktu azan magrib. Shalat asarnya? Yach ditinggalkan.
Jadi tamak terhadap dunia tidak selalu identik dengan orang kaya yang rumahnya menjulang, juga orang miskin yang meninggalkan shalat hanya karena pekerjaannya juga disebut orang yang tamak dunia.
Terlalu tamak terhadap dunia merupakan akibat dari kecintaannya terhadap dunia, ia melupakan bahwa dunia ini adalah sementara dan tempat yang abadi hanya khirat, dunia ini Cuma tempat mencari bekal untuk akhirat.
Diriwayatkan Rasulullah saw dan para sahabat melewati bangkai kambing. Beliau berkata, “Tidakkah kalian melihat kambing ini hina bagi pemiliknya?” Para sahabat menjawab, “Benar.” Rasulullah bersabda, “Demi zat yang menguasai diriku, sesungguhnya dunia itu lebih hina bagi Allah daripada kambing ini bagi pemiliknya. Seandainya dunia ini di sisi Allah dengan seekor nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberikan minuman kepada orang kafir dari dunia seteguk air pun.”
Teupin Punti, 26 Desember 2013
Banyak hal yang dapat kita tulis misalnya kita melakukan perjalanan ke suatu tempat, kita bisa menuangkannya dalam sebuah tulisan. Bila menceritakan dengan lisan tentang perjalanan kepada orang lain sangat bisa, kenapa dengan tulisan tidak bisa? Pasti karena belum terbiasa, coba kalau sudah terbiasa.
Contoh lain bila Anda adalah pecinta fotografi, Anda tentunya bisa menuangkannya dalam tulisan berupa tips-tipsnya dan lain-lainnya.
Bila Andai seorang santri, ini tentu hal yang mutlak Anda harus bisa menuangkan semua ilmu yang ada dalam otak Anda dalam tulisan, santri sekarang harus mendobrak image yang jago pidato nihil tulisan, bercontohlah pada ulama-ulama dulu yang mengarang kitab berjilid-jilid, sebab apa kita tidak meneruskan perjuangan mereka.
Walaupun menjadi pendengki itu enak, tidak sedikit orang yang menikmatinya. Orang pendengki sangat susah orang lain mendapatkan kesenangan, dia berusaha mencari alasan yang bahwa kesenangan tersebut tidak layak padanya.
Pendengki ada di berbagai lini kehidupan, di sekolah, kantor, masyarakat luas. Di kantor misalnya, pendengki sangat susah ketika orang lain mendapatkan promosi jabatan. Dia terus menghembuskan provokasi-provokasi dengan berbagai dalil bahwa orang tersebut belum layak mendapatkan jabatan setinggi itu, alasan pun dibuat-buat, karena orang baru, masak sudah mendapat jabatan strategi.
Intinya pendengki tidak pernah merasa senang, dan kita sebagai orang yang menjadi sasarannya tidak perlu menyusahkan diri.
Selayaknya kita memperhatikan sabda Rasulullah Saw yang mengatakan bahwa dengki itu dapat menghapus kebaikan sebagaimana api membakar kayu. Apakah kita ingin amal habis sedikit demi sedikit hanya karena mendengki kepada orang lain?.
Marilah kita bertobat dari sifat dengki yang mengakar dalam diri kita sebelum amal kita habis dilahab olehnya.