Senin, 26 November 2012

Keramat Ulama Aceh; Kesalahan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran


Yang namanya manusia, tentu tidak terlepas dari kesalahan (to error is humam), tanpa peduli apakah ia kaum intelektual maupun bukan, terkecuali Nabi yang memang sudah dijamin ma’sum dari kesalahan. Ini bila kesalalahan yang dilakukan manusia tanpa I’tikad jahat (without malice). Melakukan kesalahan dengan sengaja, ini bukan kemanusian tapi kejahatan.
Bagi anda penggemar buku tentunya tidak akan melewatkan satu buku pun untuk dibaca, baik penulis local, nasional, maupun internasional.
Baru-baru ini (catatan ini saya tulis pada 23/09/2011), saya baru saja menamatkan membaca sebuah buku yang berjudul  “Keramat Ulama Aceh” dikarang oleh Drs.Tgk.Harmen Nuriqmar.
Terbitnya buku ini haruslah kita memberi apresiasi dan aplaus yang sedemikian rupa, dikarenakan dengan hadirnya buku ini telah menambah referensi kita tentang ulama-ulama Aceh, sekarang kita hanya banyak disungguhi dengan sejarah-sejarah ulama jawa sedari melupakan sejarah ulama Aceh, seolah-olah Aceh negeri islam tanpa ulama, hadirnya buku ini mengentahkan semua itu, bahkan membaca judul buku itu memberi tau kepada kita, ulama Aceh bukan sekedar ulama biasa-biasa saja, tapi ulama sekaligus waliyullah, sehingga Allah memberi mereka dengan keramat (bahasa arab, karamah)
Dan satu yang ingin saya beritahukan dalam buku ini sebenarnya bukanlah Cuma Drs.Tgk.Harmen Nuriqmar, tapi ada pengarang lain yaitu, Drs.Tgk.H. Ameer Hamzah, pastinya bila anda pembaca setia Koran Waspada, tentu tidak asing lagi dengan penulis ini, karena pada Koran Waspada beliau adalah penulis tetap pada rubrik ‘Bayan’.
Dalam buku ini, saya mendapatkan kejanggalan yang saya kira itu  memang sebuah kesalahan, yaitu pada halaman 37 ;
“Taukah anda ? gunung-gunung yang kita lihat mematung itu sebenarnya berjalan juga seperti awan ? sebagaimana difirmankan Allah “ Dan engkau melihat gunung-gunung, engkau kira bahwa dia tetap tak bergerak, padahal dia berjalan kencang sebagai awan berjalan….(QS 27:88, 52:10). Para ali geofisika sudah menelati tentang bergeraknya gunung-gunung itu dan mereka membuktikannya. Subhanallah !
Ketika saya membacanya, saya penasaran, apakah memang begitu penafsirannya ayat tersebut ? Dari manakah beliau mendapatkan tafsiran tersebut?, rasa penasaran saya menggerakkan saya untuk membuka kitab tafsir, yaitu kitab tafsir Jalalain, yang populer dikalangan dikalangan Dayah-Dayah dan pesantren.
Ternyata apa yang saya baca dalam buku itu sangat jauh berbeda dengan penjelasan yang terdapat dalam kitab jalalain, yang mana dalam kitab tersebut dijelaskan yang bahwa berjalan gunung yaitu ketika terjadi hari kiamat, bukan waktunya sekarang.
Tafsir jalalain surah an-Naml ayat 88 ;
{وَتَرَى الْجِبَال"} تُبْصِرهَا وَقْت النَّفْخَة {"تَحْسَبهَا"} تَظُنّهَا{ "جَامِدَة"} وَاقِفَة مَكَانهَا لِعِظَمِهَا {"وَهِيَ تَمُرّ مَرّ السَّحَاب"} الْمَطَر إذَا ضَرَبَتْهُ الرِّيح أَيْ تَسِير سَيْره حَتَّى تَقَع عَلَى الْأَرْض فَتَسْتَوِي بِهَا مَبْثُوثَة ثُمَّ تَصِير كَالْعِهْنِ ثُمَّ تَصِير هَبَاء مَنْثُورًا {"صُنْع اللَّه"} مَصْدَر مُؤَكَّد لِمَضْمُونِ الْجُمْلَة قَبْله أُضِيفَ إلَى فَاعِله بَعْد حَذْف عَامِله أَيْ صَنَعَ اللَّه ذَلِكَ صَنِعًا {"الَّذِي أَتْقَنَ"} أَحْكَمَ {"كُلّ شَيْء"} صَنَعَهُ {"إنَّهُ خَبِير بِمَا تَفْعَلُونَ"} بِالْيَاءِ وَالتَّاء أَيْ أَعْدَاؤُهُ مِنْ الْمَعْصِيَة وَأَوْلِيَاؤُهُ مِنْ الطَّاعَة
088. (Dan kamu lihat gunung-gunung itu) yakni kamu saksikan gunung-gunung itu sewaktu terjadinya tiupan malaikat Israfil (kamu sangka dia) (tetap) diam di tempatnya karena besarnya (padahal ia berjalan sebagai jalannya awan) bagaikan hujan yang tertiup angin, maksudnya gunung-gunung itu tampak seolah-olah tetap, padahal berjalan lambat saking besarnya, kemudian jatuh ke bumi lalu hancur lebur kemudian menjadi abu bagaikan bulu-bulu yang beterbangan. (Begitulah perbuatan Allah) lafal Shun'a merupakan Mashdar yang mengukuhkan jumlah sebelumnya yang kemudian di-mudhaf-kan kepada Fa'il-nya Sesudah 'Amil-nya dibuang, bentuk asalnya ialah Shana'allahu Dzalika Shun'an. Selanjutnya hanya disebutkan lafal Shun'a yang kemudian dimudhaf-kan kepada Fa'il-nya yaitu lafal Allah, sehingga jadilah Shun'allahi; artinya begitulah perbuatan Allah (yang membuat dengan kokoh) rapih dan kokoh (tiap-tiap sesuatu) yang dibuat-Nya (sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan) lafal Taf'aluna dapat dibaca Yaf'aluna, yakni perbuatan maksiat yang dilakukan oleh musuh-musuh-Nya dan perbuatan taat yang dilakukan oleh kekasih-kekasih-Nya.
Tafsir jalalain surah At-Thur ayat 10
{وَتَسِير الْجِبَال سَيْرًا"} تَصِير هَبَاء مَنْثُورًا وَذَلِكَ فِي يَوْم الْقِيَامَة

010. (Dan gunung-gunung benar-benar berjalan) maksudnya, menjadi debu yang beterbangan, demikian itu adalah hari kiamat.
Lantas kenapa pengarang buku ‘Keramat Ulama Aceh’ menafsirkan itu ?, saya menduga karena pengarangnya cenderung kepada penafsiran ilmiah Al quran.
Dalam masalah ini saya cenderung seperti Annemarie schimmel dalam bukunya ‘Mengurai Ayat-Ayat Allah’, ia menulis
“Namun demikian orang hendaknya sadar bahwa Al-Quran bukan merupakan buku teks fisika atau biologi namun basic elan-nya adalah moral, sebagaimana Fazlur Rahman tegaskan, dan merupakan hukum moral yang kekal sedangkan penemuan sain berubah dengan kecepatan yang semakin tinggi.”
Kita tidak memaksakan tafsiran berjalan gunung tersebut itu adalah sekarang karena didukung ahli Geofisika, bagaimana bila 5 tahun kedepan ternyata penelitian yang dilakukan oleh ahli fisika berbeda dengan penelitian sekarang ?. Apakah kita juga akan mengubah penafsiran ayat tersebut?.
Dr.’Ali Hasan Al-‘Aridl dalam bukunya yang berjudul ‘Tarikh ‘ilm al-Tafsir wa Manahij al-Mufassirin’ beliau menulis “sebagian ulama menolak tafsir ilmiah. Mereka tidak melangkah jauh untuk memberikan makna-makna yang tidak dikandung dan dimungkinkan oleh ayat dan menghadapkan Al-Quran kepada teori-teori ilmiah yang jelas jelas terbukti tidak benar setelah berpuluh-puluh tahun, oleh karena teori-teori itu bersifat relative. Mereka berpendapat, tidak perlu masuk terlalu jauh dalam memahami dan menginterpretasikan ayat-ayat Al-Quran, oleh karena ia tidak tunduk kepada teori-teori itu, tidak perlu pula mengkaitkan ayat-ayat AL-Qur’an dengan kebenaran-kebenaran imiah dan teori-teori alam. Sebaliknya -menurut mereka- kita harus menempuh cara yang mudah dalam memahami ayat-ayat AL-Qur’an dengan mengungkapkan makna-makna yang ditunjukkan teks ayat dan benar-benar sesuai dengan konteksnya tanpa melangkah terlalu jauh dan lepas ke makna yang ditunjukkan oleh teks ayat dan hal-hal lain yang tidak perlu diungkap dalam kaitan dengan pensyari’atan agama islam dan fungsi AL-Qur’an sebagai hidayah (petunjuk).
Hal diatas dikarenakan kepentingan AL-Qur’an bukanlah berbicara kepada manusia tentang problematika kosmologis, dan kebenaran-kebenaran ilmiah, tetapi ia semata-semata merupakan petunjuk dan penuntun yang diturunkan oleh Allah untuk kebahagian manusia. Oleh karena inilah, kita harus menjauhkan Al-Qur’an dari pemikiran-pemikiran yang mengada-ada dan kita tidak boleh menundukkannya kepada teori-teori dan penemuan-penemuan ilmiah.”
Kita juga harus memperhatikan hadis SAW yang dikeluarkan oleh Abu Dawud ;
من قال في القران بغير علم فليتبوأ مقعده من النار
“Barangsiapa berkata dalam (menafsirkan) AL-Quran tanpa disertai imu, maka bersegeralah ia mengambil tempat di neraka”

Wallahu A’lam.

                                       Darul Huda, 23 September 2011



Tidak ada komentar:

Posting Komentar